Di balik hingar bingar potensi besar Butler, tidak banyak yang tahu bahwa untuk menjadi pemain sebesar sekarang ia harus menghadapi jalan terjal terlebih dahulu. Kisah masa lalunya pilu, bahkan lebih menyedihkan dari yang bisa orang-orang bayangkan.
Ayahnya sudah pergi meninggalkan Butler sejak dirinya masih bayi. Belum selesai sampai di situ, pada usianya yang ke-13, Butler diusir dari rumah oleh Ibu kandungnya sendiri tanpa alasan yang jelas. Sang Ibu mengusir dengan kalimat kasar, "Saya tidak suka dengan rupa wajahmu. Kamu harus pergi dari sini!"
Alhasil, sejak saat itu Butler hidup nomaden alias berpindah-pindah. Ia menumpang tinggal di rumah teman-temannya secara berganti-gantian. Masa depannya tampak tanpa kepastian, hingga akhirnya ada sebuah keluarga berhati mulia yang mau menampung Butler. Adalah Michelle Lambert dan keluarga yang mengambil Butler sebagai anak angkat. Padahal saat itu Michelle sudah memiliki 7 orang anak.
"Mereka menerima saya masuk ke dalam keluarga mereka, dan ini jelas bukan karena olahraga basket yang saya tekuni. Ia (Michelle) hanyalah seorang wanita yang mau menyayangi saya apa adanya. Saya masih tidak mempercayainya," ujar Butler. Kemudian pahitnya hidup masih terus dirasakan oleh Butler. Saat hendak bergabung dengan tim basket SMA, para pelatih basket dan kepala sekolah menolak Butler, karena dianggap tubuhnya terlalu kecil, pendek dan tidak mampu berlari dengan cepat.
Namun, Butler tidak menyerah. Michelle selalu ada untuk terus mendorong Butler meraih mimpinya untuk menjadi pemain NBA. Michelle jugalah yang kemudian meminta Butler untuk mau kuliah di Marquette. Michelle berharap anaknya tersebut bisa serius menyelesaikan studi hingga sarjana, sebab Marquette memiliki reputasi mumpuni sebagai salah satu akademi terbaik, bukannya tim basket terbaik. Namun dari tim basket Universitas Marquette yakni Golden Eagles, Butler masuk ke dalam NBA Draft. Ujungnya, bisa kita lihat sekarang. Pada tahun 2011, ia bergabung dengan Chicago Bulls.
Butler percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. "Sepanjang hidup saya, banyak orang yang meragukan saya. Termasuk Ibu kandung saya sendiri. Lalu, saat SMA orang-orang mengatakan bahwa tubuh saya terlalu pendek dan lari saya lambat untuk bisa bermain basket," ujar Butler sesaat sebelum terpilih masuk ke dalam NBA Draft. "Namun, siapa yang menyangka saya yang merupakan seorang anak dari desa kecil bisa menjadi pebasket andal di kompetisi basket college dan sekarang berkesempatan terpilih masuk ke dalam NBA Draft? Itulah yang memotivasi saya. Saya tahu saya selalu bisa mengatasi semua masalah."
Butler tidak mau kisah menyedihkan yang dialaminya dipublikasikan ke khalayak. Alasannya tegas: Ia tidak ingin orang-orang merasa kasihan kepadanya. "Saya benci itu. Saya tidak ingin orang merasa kasihan kepada saya, sebab itu memang tidak perlu. Saya tidak menyesali atas apa yang telah terjadi dalam hidup saya. Ini telah membentuk diri saya menjadi kuat "

Tidak ada komentar:
Posting Komentar